BIMA DALAM CERITA 2
27/01/2017 (masih di BIMA)
Lebih tepatnya singgah di suatu daerah, tanpa keluarga seorang pun menjadi
tantangan tersendiri yang harus saya hadapi pada awal berada ditempat tersebut,
tapi ini tidak berlaku di Bima, hari pertama disini saya sudah memiliki keluarga,
memiliki kakak hingga tiga bulan kedepan *hope,
memiliki teman berbagi hingga tiga bulan kedepan*hope,
memiliki sahabat untuk saling tolong menolong hingga tiga bulan
kedepan*hope,
dan semuanya menjadi harapan.
____________________________________________________________________________________
16.00 | | 0 Comments
BIMA part 1
Bima, 15 Januari 2016
Terlalu cepat yah, kata awal yang terucap kali ini, semuanya
berlalu begitu cepat. Mengalir seperti air bah di kota bima tanggal 21 dan 23
desember 2016.
Sedikit cerita saat ini aku
sedang menjalankan tugas negara selama 3 bulan di Kota penuh cerita ini (baca:
Bima) dan semuanya berlalu begitu cepat.
Tanggal 10 November 2016, aku
berani mengambil keputusan untuk detasharing ke kota Bima, kota kecil di ujung
Pulau Sumbawa, entah mengapa hampir seluruh penghuni kantor enggan di tempatkan
di Kota ini, bahkan orang asli daerah ini pun enggan untuk kembali ke
daerahnya, ataukah karena mereka telah merasakan indahnya dunia semu perkotaan,
itu menjadi pertimbangan mereka tersendiri, namun kalo saya secara pribadi
secara prinsip selagi masih punya waktu dan kesempatan lihatlah dunia indah
ini, karena akan ada saatnya kita akan kembali ke kota kelahiran kita entah
dalam keadaan masih bernyawa ataupun tidak. Keputusan ini saya ambil dengan
berbagai pertimbangan, hampir seluruh orang berpendapat saya mengorbankan diri
menjadi tumbal, yah sebenarnya seperti itu, saya dapat menolak namun jika saya
menolak siapa yang akan menggantikan, gmana dengan keluarga mereka yang harus
mereka tinggalkan selama 3 bulan. Kata seseorang kepada saya, “jika kita ikhlas
akan ada hikmahnya” dan itu benar2 terjadi di kota ini.
Sebelum berangkat ke Kota Bima,
aku meminta cuti 2 hari, dengan alasan meminta izin orang tua, namun lebih
tepatnya meminta izin pada orang yang telah
ada selama 14 tahun dalam hati (pembahasan lebih lanjut).
Kamis, 17 November 2016. Aku mengambil
pesawat paling awal berharap hari ini segala urusan dapat selesai. Malam
sebelum berangkat, perasaan masih belum jelas, dikelilingi oleh dua buah koper
besar dan beberapa dus perlengkapan yang telah dirapikan oleh sahabat kantor, (
terima kasih yah inces2 ku di kantor, kalian sahabat terbaik) semalaman aku
belum bisa tidur, rasa penasaran, rasa takut, rasa kebimbangan, dan khawatir
gmana kedepannya, disamping itu hari esok juga menjadi hari pemilihan direktur
ayahku, sebagai anaknya yang jauh dari mereka hanya doa dan semangat yang dapat
ku kirimkan.
Tepat pukul 06.25 wita, pesawat
garuda tipe ATR mulai lepas landas, saya mencoba menggali sedikit informasi
tentang kota ini, jujur ini pertama kali ke kota ini, dari ketinggian entah
berapa ratus meter diatas permukaan laut mulai terlihat pulau kecil ini, yang dipenuhi
oleh tambak garam, berbeda dengan pulau lombok dari atas terlihat daerah
persawahan.
Pukul 07.30 Wita alhamdulillah
saya tiba dengan selamat di bandara sultan kaharuddin, dengan menggunakan
seragam kantor biru kuning saya dijemput oleh 2 orang parner kerja, dan menjadi
sahabat saya selama di Kota Bima ini, langsung menuju kantor. setelah berbincang
sejenak dengan kepala cabang kota bima, saya meminta izin untuk mencari tempat
tinggal (baca: kos-kosan) secara aturan kantor pegawai pemimpin yang
detasharing dapat tinggal di hotel selama 7 hari, namun bagi saya ini akan
menambah cost yang semestinya dapat saya gunakan untuk biaya tempat tinggal
selama saya di Bima, beberapa referal tempat kos diberikan, dan lumayan harga
kosan di kota bima ini relatif murah, setelah keliling hingga sore akhirnya
saya memutuskan untuk mengambil daerah kosan yang paling dekat dengan kantor,
dan cerita pun dimulai disini---------
to be continue
16.26 | | 0 Comments
Langganan:
Postingan (Atom)
Total Tayangan Halaman
Diberdayakan oleh Blogger.
Translate
About Me
- Unknown